Nastar: dari Belanda Sampai Jadi Hidangan Wajib Hari Raya

26 Nov 2025

Bella Cynthia Ratnasari

Setiap hari raya keagamaan seperti Lebaran, Natal hingga Imlek, aneka macam kue biasanya jadi kudapan wajib di setiap rumah. Adapun salah satu camilan yang kerap jadi primadona adalah nastar.

Kue bulat dengan diameter sekitar 2 cm ini biasanya berisi selai nanas. Kemudian di bagian atasnya diberi hiasan keju parut atau potongan cengkeh. Dalam satu kali gigit ada rasa manis dan sedikit asam yang bercampur jadi satu.

Nastar sendiri sebenarnya merupakan kuliner khas Belanda. Saat menjajah Indonesia kudapan manis ini akhirnya menyebar di seluruh Nusantara. 

Nama nastar sendiri berasal dari kata serapan bahasa Belanda, yaitu: ananas atau nanas dan taartjes atau tart, jadi nastar merupakan gabungan dari dua kata tersebut. Sedangkan dalam bahasa Inggris, nastar disebut Pineapple Tarts atau Pineapple Nastar Roll.

Pada awalnya, bangsa Belanda memperkenalkan nastar kepada masyarakat pribumi berupa kue atau pie dengan isian bluberi, apel atau stroberi. Namun karena saat itu penjajahan kesulitan menemukan buah-buahan tersebut maka mereka menggantinya menjadi nanas karena rasanya manis dan asam serta memiliki tekstur yang hampir mirip dengan buah-buahan yang biasa mereka gunakan.

Kala itu, nastar hanya disajikan dalam perayaan-perayaan besar atau penting saja. Bahkan hanya bangsawan atau priyayi saja yang bisa merasakan manisnya kue ini. 

Lebih lanjut, sebenarnya nastar dicetak dalam sebuah loyang besar. Namun agar lebih praktis saat disantap, kue nastar dimodifikasi menjadi bentuk bulat-bulat kecil.

Sementara resep nastar sendiri terinspirasi dari kue pie yang dibuat dalam loyang besar berisi bluberi, apel maupun stroberi. Untuk adonan pun juga sama seperti adonan pie, yakni terdiri dari: tepung terigu, telur, gula, mentega, dan bahan lainnya.  

Tak hanya Indonesia, nastar juga terdapat di beberapa negara Asia lainnya seperti: Tiongkok dan Hong Kong. Bedanya, nastar di Hong Kong mempunyai bentuk seperti balok dengan ukuran sekitar 5 cm.

Masyarakat etnis Tionghoa juga percaya bahwa secara filosofis nastar mempunyai makna kemakmuran. Dalam bahasa Hokian, nastar disebut Ong Lai atau buah pir emas. Nastar yang memiliki warna kuning keemasan serta isian manis menjadi simbol kemakmuran, kelimpahan rezeki, dan keberuntungan. Rasa manis dan lembutnya selai nanas juga menjadi doa dan melambangkan kemudahan serta kelimpahan rezeki.