Ngaben dan Makna di Dalamnya

26 Nov 2025

Bella Cynthia Ratnasari

Selain punya deretan pantai yang cantik, Bali juga punya beragam tradisi yang masih dijaga hingga hari ini. Misalnya saja upacara sakral, Ngaben. Ritual wajib bagi masyarakat Hindu di Bali ini dilakukan bila ada anggota keluarga yang meninggal.

Kata “ngaben” sendiri berasal dari kata “beya” yang artinya bekal. Ngaben disebut juga palebon, berasal dari kata “lebu” yang berarti prathiwi atau tanah (debu). 

Dalam kepercayaan masyarakat Hindu, jasad manusia terdiri dari dua unsur: badan halus (roh atau atma) dan badan kasar (fisik). Fisik atau badan kasar terdiri dari lima unsur atau ‘Panca Maha Butha’, yaitu: pertiwi (tanah), teja (api), apah (air), bayu (angin), dan akasa (ruang hampa). Adapun unsur tersebut dipercaya membentuk fisik manusia dan digerakkan oleh roh. 

Jadi, saat seseorang meninggal maka yang mati hanyalah badan kasarnya saja, sementara rohnya tidak. Maka dari itu untuk menyucikan roh perlu dilakukan Ngaben untuk memisahkan atma dari fisiknya.

Di dalam ajaran Hindu, selain menjadi dewa pencipta, Dewa Brahma juga memiliki wujud sebagai Dewa Api. Karenanya upacara Ngaben merupakan proses penyucian roh dengan cara dibakar agar bisa kembali ke Sang Pencipta. Jadi, api akan membakar semua kotoran yang melekat pada jasad dan roh orang yang meninggal dunia kemudian mengembalikan segala unsur Panca Maha Bhuta kepada asalnya masing-masing agar tidak menghalangi perjalan atma ke Sunia Loka. 

Selain dibakar, proses Ngaben yang tidak boleh terlewat adalah pada saat menghanyutkan abu ke sungai atau laut. Hal ini bertujuan untuk melepaskan atma dari belenggu keduniawian sehingga dapat dengan mudah bersatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam). 

Sementara bagi pihak keluarga, Ngaben memiliki arti bahwa pihaknya sudah mengikhlaskan dan merelakan kepergian yang bersangkutan. Karenanya pada proses ritual Ngaben anggota keluarga yang ditinggalkan tidak menangis. Sebab mereka percaya bahwa orang yang meninggal tersebut hanya pergi untuk sementara waktu dan akan bereinkarnasi atau menemukan peristirahatan terakhir di Moksa (keadaan saat jiwa bebas dari reinkarnasi dan roda kematian).